Make your own free website on Tripod.com

Pengantar Singkat Tentang Tasawwuf

By Abdul Hayyie Al Kattani

Allah Swt berfirman: "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka, apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu" (QS. Al A'raf: 172-173)

Ayat di atas dengan jelas mendeklarasikan, seluruh manusia pernah melihat dan berjumpa dengan Allah Swt. Bahkan berbicara kepada-Nya secara langsung. Pengalaman ini tertanam dalam sisi terdalam jiwa manusia, fitrah. Semuanya telah terpatri (built in) dalam bangunan diri setiap manusia, siapapun dia. Oleh karena itu, jika manusia di dunia ditanyakan siapa yang telah menciptakan langit dan bumi ini, secara spontan, sisi terdalam jiwa mereka itu akan menjawab: "Allah".

Dalam Al Quran, Allah Swt berfirman: "Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah" (QS. Luqman: 25). Keindahan kebersamaan dan perjumpaan itu menjadi sesuatu yang terus mendorong mereka yang dianugerahkan berhati bersih, atau mereka yang kemudian dibukakan hatinya, untuk menggapainya kembali. Manusia, di dunia ini, berada dalam perpisahan sementara dan amat singkat, untuk kemudian kembali menghadap kepada-Nya. Atau dalam sabda Rasulullah Saw diungkapkan: Manusia di dunia ini tertidur, dan jika mati mereka baru terjaga. Tentang perjumpaan pada kesempatan pertama itu, Imam Abul 'Azaim bersenandung:

Sejak jaman "alastu" kami tak pernah melupakan * percakapan dan keindahan "Sang Indah" Gemerlapan. (Seperti dikutip oleh Syeikh Muhammad Ali Salamah, Ayyamullah, Cet. Strand al Haditsah, Cairo, 1985, hal. 17.)

Imam Ali k.w. pernah ditanya: Wahai amirul mu'minin, apakah Anda mengingat hari alastu birabbikum? Ia menjawab: "Ya, aku masih mengingatnya, dan aku mengingat siapa yang berada di samping kanan dan samping kiriku"!.

Pada suatu halaqah yang diadakan Al Muhasiby, seseorang bersenandung:

"Di negeri asing, ku tenggelam dalam tangisan

Seperti perantau yang kesepian

Dan kini ku menyadari

Sebaiknya, negeriku tak ku tinggalkan

Mengapa ku tinggalkan Tempat Sang Kekasih berada" (1)

Mendengar itu, Al Muhasiby segera berdiri dan terisak menangis, merindukan kampung halamannya yang abadi, yang disaksikan pada hari "alastu" itu.

Perjumpaan selanjutnya dengan Allah Swt akan terjadi dalam bentuk yang amat lain. Yaitu akan diikuti dengan perhitungan perbuatan selama perjalanan singkat di dunia ini. Apakah seseorang tetap ingat terhadap janjinya, atau malah kemudian dikalahkan sisi gelap dirinya: Nafsu yang melenakan dan melupakan serta selalu mengajak kepada keburukan; "Nafsu ammarah bissu". Hanya orang-orang yang selamat dari godaan itu dan membersihkan hatinya yang berhak kembali dengan selamat dan menikmati keindahan dan kebahagiaan yang pernah dirasakan itu. Dan Allah Swt akan menyambutkan dengan segala penyambutan: "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku" (QS. Al Fajr: 28-30).

Untuk melakukan perjalanan sementara itu, Allah Swt tidak membiarkan manusia dalam kebutaan dan kegelapan, tanpa petunjuk jalan dan orang yang menuntun mereka. Allah SWT mengutus para Nabi dan Rasul untuk melakukan tugas itu. Memberikan tuntunan kepada manusia agar dapat kembali dengan selamat, menuju kampung halaman mereka. Hal itu berkali-kali telah diungkapkan oleh Al Quran, dan oleh Rasulullah Saw; telah diutus sebelum beliau nabi-nabi dan rasul-rasul untuk melakukan tugas itu (2), meskipun dengan syari'ah yang berbeda (QS. Al Maidah: 48), namun untuk tujuan yang sama (QS. An Nahl: 36). Para rasul adalah cahaya yang memancar bagi orang-orang yang mendapat hidayah dari Allah Swt (3,4). Mercu suar bagi manusia, sehingga mereka tidak tersesat mengarungi lautan hidup ini. Dan menerangi hati mereka, sehingga hati mereka bersih, suci dan mencapai alam malakut. Melepaskan diri dari kebinatangan mereka, untuk menuju sifat fithrah mereka yang mulia. Makhluk yang mendapatkan percikan cahaya ruh dari Allah SWT (5).

Allah SWT berfirman tentang pengutusan Rasulullah Saw: "Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab, Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata" (QS. Ali 'Imran: 164)

Dalam ayat di atas, secara eksplisit diungkapkan, selain menyampaikan ayat-ayat Allah, mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah, beliau juga diutus untuk membersihkan jiwa manusia. Mensucikan ruh mereka kembali dari debu kemusyrikan, kekerasan hati, penyakit-penyakit ruhani dan sebagainya. Dengan sukses, tugas itu beliau laksanakan, sehingga merubah orang-orang Arab yang keras dan paganis, menjadi sahabat-sahabat beliau yang Rabbani. Membentuk sebuah masyarakat yang --meminjam istilah Akbar S. Ahmad --ideal. Mencetak tokoh-tokoh seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali k.w. Dengan ciri-ciri antara lain, keadilan Umar yang tiada tara, sifat pemalu Utsman, kecerdasan Ali yang demikian rupa, kezuhudan Abu Dzar yang tanpa tanding, keluasan ilmu pengetahuan Mu'adz dan seterusnya(6). Malah, lebih jauh lagi, mereka mampu mencapai derajat-derajat yang telah dicapai oleh nabi-nabi dari Bani Israil, kecuali tidak ada kenabian setelah Nabi Saw. Rasulullah Saw. bersabda: "Sahabat-sahabatku seperti nabi-nabi Bani Israil"!. Hal ini, dalam sebuah sya'ir diungkapkan:

"Dahulu kami hanyalah orang-orang bodoh nan hina-dina, dengan bimbingan Thaha (Saw), kami menjadi tokoh-tokoh mulia" (7)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. bersabda: "Kami para nabi-nabi tidak mewariskan apa-apa"(8). Dan pada hadits yang lain, Rasulullah Saw bersabda pula: "para ulama adalah pewaris nabi-nabi" (Hadits diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, dalam sahihnya dari hadits Abi Darda). Menyaksikan dua hadits ini, seakan ada kontradiksi dalam dua sabda beliau itu. Namun, jika kita teliti lebih mendalam, kita temukan sebuah pengertian; para nabi tidak mewarisi harta duniawi, tetapi mereka mewarisi risalah kenabian, dan para ulama-lah para pewaris itu. Rasulullah Saw. telah mencetak sahabat-sahabat beliau sebagai pemegang warisan risalah itu. Sehingga, ketika beliau meninggalkan dunia ini, menuju kampung halaman yang abadi di sisi Allah SWT, telah terbina sahabat-sahabat yang handal, dan menguasai tugas sebagai penyambung risalah itu, yaitu menyebarkan ilmu pengetahuan dan cahaya Ilahiyah. Ciri pengetahuan mereka amat khas, yaitu penguasaan literer dengan baik terhadap nash-nash yang ditinggalkan oleh Rasulullah Saw. serta kehalusan ruhani yang tinggi pula. Misalnya, tentang Abu Bakar r.a. Rasulullah Saw bersabda, keutamaan Abu Bakar r.a. bukanlah karena banyaknya puasa yang ia lakukan, juga bukan karena banyaknya salat, meriwayatkan hadits, berfatwa atau berbicara, namun karena sesuatu yang tertanam dalam hatinya (Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi Al Hakim dalam Nawadir dari perkataan Abi Bakar bin Abdillah al Mazini. Tetapi Al Iraqi tidak mendapatkan redaksi ini sebagai hadits marfu').

Ulama atau fuqaha, pada masa kaum salaf, menurut Al Ghazali, adalah mereka yang menguasai ilmu-ilmu syari'ah secara literer, juga mereka yang menguasai ilmu akhirat atau ruhani(9). Ketika Sa'd bin Ibrahim ditanya: Siapa penduduk Madinah yang paling faqih? beliau menjawab: "Orang yang paling bertakwa kepada Allah Swt". Jawaban tersebut --menurut Al Ghazali--menunjukkan, kefaqihan seseorang ditentukan oleh pengetahuannya akan ilmu-ilmu akhirat dan rahasia kedalaman hati, apa yang merusak amal perbuatan, pengetahuan akan hinanya dunia, keinginan yang menggebu untuk mencapai akhirat dan mempunyai ketakutan yang tinggi kepada Allah Swt di dalam hatinya.

Dan hal itu tampak terwujudkan dalam diri fuqaha Islam generasi pertama, para sahabat, tabi'in dan imam-imam mazhab. Namun, menurut Al Ghazali, pada masa-masa selanjutnya, istilah ini berubah menjadi bentuk yang lain. Hingga hanya terbatas pada masalah-masalah hukum, fatwa dan kemampuan menghapal pendapat-pendapat tentang suatu masalah hukum.

Pada perkembangan selanjutnya, terutama ketika fiqih telah dikodifikasikan dan tidak ada tempat bagi ilmu ruhani tersebut dalam bab-bab fiqih itu, demikian juga hadits, tafsir dan ilmu-ilmu lainnya, dan masing-masing ilmu tersebut telah membentuk suatu konsep keilmuan tersendiri, maka para ulama yang mempunyai tanggungjawab terhadap warisan ruhaniah dari Rasulullah Saw tersebut, juga mengambil kebijaksaan yang sama: membentuk suatu konsep tersendiri tentang ilmu mereka.

Di kemudian hari, ilmu itu mereka namakan tasawwuf.

Catatan:

1. "Di negeri asing, ku tenggelam dalam tangisan Seperti perantau yang kesepian Dan kini ku menyadari Sebaiknya, negeriku tak ku tinggalkan Mengapa ku tinggalkan Tempat Sang Kekasih berada." Lihat Abi Abdirrahman As-Sulami, Thabaqat Shufiyah, Mathabi' Sya'b, tahun 1380 H., halaman: 17, dan Abu Al Mawahib Abdul Wahhab bin Ahmad bin Aly Al Anshary Asy-Syafi'i al Mashry, (Asy-Sya'rani), Thabaqat al Kubra, Darul Jail, Bairut, 1408 H/1988M, Juz I, hal. 75.

2. Lihat: QS. Al Baqarah: 87, 253; Ali Imran: 144, 183, 184; An Nisa: 165 dst.

3. Lihat: QS. Al Maidah: 15, dan ayat-ayat sejenisnya..

4. Tentang hal ini, dapat dibaca lebih lanjut pada: Syeikh Muhammad Madli Abul Aza'im, Islam dinullah wa fithratuhu 'l lati fathara 'n nasa 'alaiha, Dar Madinah Munawwarah, cet.II, 1401 H/1980 M, hal. 79 dst.

5. Lihat: QS. Al Hajar: 29, dan ayat-ayat sejenisnya.

6. Lihat: Syekh Fauzi Muhammad Abu Zaid, Nafahat Min Nur Al Quran, Juz 1, Strand Al Haditsah, 1994, Cairo, hal:30.

7. "Dahulu kami hanyalah orang-orang bodoh nan hina-dina, dengan bimbingan Thaha (Saw), kami menjadi tokoh-tokoh mulia". Lihat catatan di atas.

8. Berdasarkan hadits ini, maka Abu Bakar r.a. tidak memberikan tanah Fadak kepada Fathimah r.a., karena dengan demikian berarti, secara otomatis harta Rasulullah Saw menjadi milik umat.

9. Lihat, Imam Abu Hamid Al Ghazali, Ihya Ulumuddin, Juz 1, Darul Hadits, Cairo,1992, hal. 57

Menurut Syeikh Abdul Halim Mahmud, terdapat banyak pendapat tentang dari mana akar kata tasawwuf diambil(1). Namun, menurutnya, pendapat yang paling kuat adalah pendapat mayoritas pakar tasawwuf, seperti Mushthafa Aburraziq, Dr. Zaki Mubarak, Orientalis Margoliouth, Louis Massignon dan lainnya. Yaitu, akar kata itu diambil dari kata "shuf"-bulu domba. Bahkan Mushtafa Abdurraziq dan Louis Massignon dengan tegas mengatakan, sebaiknya pendapat yang mengatakan bahwa akar kata tasawwuf bukan diambil dari kata itu, ditolak(2).

Namun, menurut Syekh Abdul Halim Mahmud, kata tasawwuf ini, pada perkembangan awalnya bukan digunakan untuk pengertian tasawwuf seperti yang kita ketahui sekarang. Tetapi, pada awalnya, digunakan untuk menunjukkan orang-orang yang berpaling dari dunia. Yaitu para zahid dan ahli ibadah(3).

Dalam mendefinisikan tasawwuf secara terminologis, menurut Abdul Halim Mahmud lagi, juga terdapat banyak pendapat. Masing-masing orang mendefinisikannya sesuai dengan kecenderungan dan maqam yang dia telah capai. Basyar Al Hafi (w.227 H.) mengatakan, sufi adalah: Orang yang bersih hatinya (pembersihan jiwa), Abu Hafsh al Haddad (w. 265 H) mengatakan, tasawwuf adalah: Sempurnanya budi pekerti (metodologi Akhlaq), Abu Sa'id al Kharraz (w. 297 H) mengatakan: Sufi adalah orang yang hatinya disucikan oleh Rabb-nya, maka hatinya dipenuhi cahaya, dan orang yang menemukan kelezatan dalam berzikir kepada Allah. Sedangkan Al Junaid (w.297H) berkata, tasawwuf adalah: Orang yang dirinya dibersihkan oleh Allah, maka orang yang telah terbebaskan dari segala sesuatu selain Allah, ia adalah sufi. Dan banyak lagi definisi lainnya. Al Junaidi sendiri memberikan lebih dari sepuluh definisi bagi tasawwuf (4).

Namun, setelah melihat satu-persatu definisi tersebut, Syeikh Abdul Halim Mahmud berkesimpulan, definisi yang diberikan oleh Abu Bakar al Kattani (w. 322 H), adalah definisi yang paling tepat. Karena definisi itu menyatukan antara wasilah dan tujuan: Wasilahnya adalah penyucian diri, shafa; dan tujuannya adalah penyaksian, musyahadah.

Abu Bakar al Kattani mengatakan, tasawwuf adalah: Ash-Shafa wa 'l musyahadah --kesucian diri dan penyaksian". Dari definisi tersebut, dapat dikatakan dengan yakin, tasawwuf adalah pengejawantahan secara utuh firman Allah Swt.: "Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu ".(5)

Pensucian diri itu adalah sebuah metoda untuk kemudian mencapai kondisi seperti yang difirmankan oleh Allah Swt: "Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tema menyerahkan diri (kepada) Allah" (6).

Dan tujuannya adalah menuju pencapaian seperti yang difirmankan oleh Allah SWT: "Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)". (7) Dengan demikian, tujuan tasawwuf adalah menuju penyaksian: Asy-hadu an la ilaha Illa Allah - 'Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah'" (8).

Lebih jauh, Dalam kitab Ash-Shafa wa 'l Ashfia, Syeikh Fauzi Muhammad Abu Zaid berkata: "Tasawwuf adalah Islam itu sendiri. Dengan pengertian, Islam adalah kumpulan dari syari'ah, hukum dan perintah-perintah Allah Swt untuk seluruh umat manusia. Syari'ah dan hukum-hukum ini, Tidak akan bermanfaat bagi manusia kecuali jika ia melakukannya dengan ikhlas semata untuk Allah SWT. Sedangkan orang yang hanya mengatakan bahwa ia muslim, kemudian tidak menjalankan syari'at dan aturan-aturan Islam, maka ia tidak bisa dikatakan sebagai muslim secara utuh. Rasulullah Saw bersabda: "Keimanan bukanlah sekadar angan-angan, namun ia adalah apa yang tertanam dalam hati, dan dibuktikan oleh amal perbuaan. Ada orang yang tertipu oleh angan-angannya dan merekapun tertipu dalam menghadapi Allah, sehingga mereka berkata: 'kami berbaik sangka kepada Allah' [Maksudnya: kami berbaik sangka kepada Allah, bahwa dengan keimanan kami kepada-Nya --tanpa dibuktikan amal kami-- Allah akan menyelamatkan kami dan memasukkan kami ke surga, pen].

Pada dasarnya mereka telah berdusta, karena jika mereka berbaik sangka kepada Allah, niscaya mereka akan beramal dengan baik pula". Dan sufi adalah orang yang menjalankan syari'at Islam dengan sempurna. Maka orang yang menjalankan syari'at Islam dengan sempurna adalah sufi. Karena tasawwuf adalah usaha untuk menjalankan segala kewajiban dari Allah SWT tersebut dengan segala keikhlasan hati serta bersih dari ria dan bangga diri untuk mencapai derajat shafa (kesucian diri)". (9)

Catatan:

1. Tentang hal ini, lihat: Abdul Halim Mahmud, Qadliyat tasawwuf: Al Munqizh min-a 'dl Dlalal, Darul Ma'arif, Cario, cet. II, hal. 34 dst. -- Ibnu Taimiyyah, As-Shufiyyah wa al Fuqara, Darul Fath, cet. I, Cairo, 1984, hal. 5 dst. --Louis Massignon & Dr. Mushthafa Abdurraziq, Al Islam wa Tasawwuf, Dar Sya'b, Cairo, 1399 H/1979M, hal. 14 dst. --Abu Bakar Muhammad al Kalabady, At-Ta'arruf Li Mazhab Ahli Tasawwuf, Maktabah Azhariyyah li Turats, cet. III, 1412 H/1992 M, hal. 26 dst.

2. Lihat, Al Islam wa Tasawwuf, sca.

3. Lihat, Qhadiyat Tasawwuf, scn. 21, hal. 35.

4. Lihat: Abdul Halim Mahmud, Qadliyat Tasawwuf: Madrasah Asy-Syaziliyyah, Darul Ma'arif, Cairo, cet.II, hal. 436.

5. QS. Asy-Syams: 9

6. QS. Al An'am: 162

7. QS. Ali 'Imran: 18

8. Scn. 24, hal. 438.

9. Lihat: Syeikh Fauzi Muhammad Abu Zaid, Ash-Shafa wa 'l Ashfia, Darul Iman Wa'l Hayat, Cairo, 1996, hal. 51-52.

Proses pencarian dan pencapaian dalam tasawwuf, seperti didefinisikan oleh Abu Bakar al Kattani itu, secara aplikatif telah dilalui oleh Imam Al Muhasiby dan imam Al Ghazali. Dalam kitabnya Al Munqiz Min-a 'dl-Dlalal imam Al Ghazali menulis:

"Semenjak mudaku, sebelum aku menginjak usia dua puluh hingga saat ini, ketika aku telah menginjak usia lima puluh tahun, aku selalu mengarungi lautan yang dalam ini. Dengan segala keberanian, menelusuri seluruh segi, dan mempelajari akidah semua firqah, kemudian berusaha membuka rahasia mazhab semuah firqah itu. Agar aku dapat membedakan antara yang benar dengan yang salah, serta antara yang mengikuti sunnah dengan yang membuat bid'ah. Aku tidak memasuki kebatinan kecuali untuk mengetahui kebatinannya, tidak kaum zhahiri (literalis) kecuali agar aku mengetahui hasil kezhahirihannya, juga tidak filsafat kecuali aku hendak mengetahui hakikat filsafatnya, dan tidak kaum mutakallimin kecuali untuk mengetahui hasil akhir kalam dan debat mereka, tidak juga kaum sufi kecuali aku ingin mengetahui rahasia kesufiannya, dan tidak kaum ahli ibadah kecuali aku ingin mengetahui hasil dari ibadahnya, juga tidak kaum zindiq yang tidak mengikuti syari'at kecuali untuk menyelidiki mengapa mereka demikian berani berbuat seperti itu" (1).

Setelah mengkaji sedemikian rupa seluruh firqah dan kecenderungan pemikiran tersebut, akhirnya Al Ghazali berkesimpulan: "Kemudian aku mengetahui dengan yakin, kaum sufi adalah mereka yang benar-benar menuju kepada Allah Swt. Perjalanan hidup mereka adalah yang paling baik. Metode mereka adalah yang paling lurus. Dan akhlak mereka adalah akhlak yang paling bersih. Bahkan, jika digabungkan intelektualitas kaum intelek, kebijaksanaan para bijak-bestari serta pengetahuan ahli tentang rahasia-rahasia syari'ah untuk merubah sedikit saja perjalanan hidup dan akhlak mereka, serta kemudian mengajukkan gantinya yang lebih baik, niscaya mereka tidak akan mampu" (2), (3).

Dengan pembelaan Al Ghazali itu, terutama usahanya menyatukan antara tasawwuf dengan fiqih, dalam kitabnya "Ihya Ulumuddin", maka tasawwuf mendapatkan penerimaan yang demikian luas. Untuk kasus Indonesia, misalnya, mayoritas para kiyai yang mempunyai pondok besar dan mempunyai pengetahuan fiqih yang luas, juga menguasai tasawwuf. Walaupun pada sebagian orang hanya untuk dirinya sendiri. Tasawwuf kemudian menjadi salah satu rahasia kekuatan Islam. Baik dalam menyebarkan ajaran Islam secara damai, tanpa menimbulkan disharmoni di tengah masyarakat. Seperti yang dilakukan oleh Wali Songo di Indonesia (4). Juga dalam mempertahankan ajaran Islam itu.

Dalam buku From Samarkand to Stornoway : Living Islam, Akbar S. Ahmad melukiskan, betapa dengan kekuatan tasawwuf itu, Islam mampu bertahan di negara-negara yang dianeksasi oleh Rusia yang komunis itu. Di bawah tekanan yang demikian hebat, antara lain orang yang ketahuan membaca Al Quran maupun melakukan shalat langsung masuk penjara, namun, dengan semangat dan ajaran tasawwuf, Islam mampu bertahan dalam tahun-tahun yang penuh penderitaan itu. Maka ketika negara-negara di Asia Tengah itu menemukan kemerdekaannya, wajah Islam segera menyembul kepermukaan. Seperti cendawan di musim hujan (5).

Dalam perjuangan mempertahankan Islam dengan kekuatan senjata, secara jelas peran itu terlihat pada tokoh-tokoh puncak kaum sufi. Mereka terlibat dalam banyak peperangan dan ikut serta di tengah kecamuk peperangan itu. Seperti Syaqiq al Balkhi, Hatim Al Asham, Abu Hasan Asy-Syazili yang turut serta dalam peperangan melawan tentara salib di Manshurah, walaupun matanya saat itu telah buta, juga Abdul Qadir al Jazairi serta Imam Muhammad Madli Abul Azaim, yang disebut terakhir turut berjuang untuk mengembalikan khilafah Islamiyyah paska dihapusnya kekhilafahan di Turki (6).

Dan bagi dunia modern sekarang ini, seperti diakui oleh Martin Van Bruninessen(7) dalam wawancaranya dengan majalah Amanah, kans tasawwuf untuk mengajukan dirinya kepada masyarakat modern amat besar. Bahkan ia dengan tegas mengatakan, tasawwuf akan mampu menembus dan menundukkan Barat. Dalam wawancara dengan majalah Tempo, Seyyed Hossein Nasr mengatakan, tasawwuf adalah inti kekuatan Islam. Ia adalah jantungnya Islam. Tasawwuflah yang dengan menjanjikkan dapat memberikan alternatif kepada masyarakat modern di Barat. Dan Rene Guenon, seorang sarjana Prancis yang kemudian mengganti namanya menjadi Syeikh Abdul Wahid Yahya, telah menggunakan kekuatan tasawwuf itu untuk menyebarkan Islam di seluruh penjuru dunia. Hingga gereja harus mengeluarkan keputusannya untuk melarang masyarakat membaca buku-bukunya. Tentu saja itu dilakukan gereja karena melihat pengaruh yang begitu besar dari buku-bukunya itu (8).

Tokh, dunia telah mengenalnya dan menikmati buku-bukunya, dan itu telah menggetarkan hati banyak orang Barat yang sedang mencari kebenaran. Pada tahun 1977, misalnya, di Oxford telah didirikan sebuah organisasi pengagum pemikiran Ibnu Arabi, The Muhyiddin Ibnu Arabi Society. Sejak 1982 organisasi ini telah menerbitkan sebuah jurnal, yang diberi nama Journal of the Muhyiddin Ibn 'Arabi Society. Organisasi ini secara berkala mengadakan Pertemuan Umum Tahunan dan Simposium Tahunan di tempat-tempat berbeda (9).

Kini Anda telah hadir di dunia ini. Anda juga telah mengenal wajah tasawwuf dalam arti yang sebenar-benarnya. Tujuan kehadiran Anda di dunia adalah menjalani titian rintangan, cobaan, dan karunia dan bahagia yang ada menuju tahapan demi tahapan ke sisi haribaan-Nya. Hanya Dia-lah yang kita tuju. Hanya kepada-Nya-lah hidup kita berserah. Hanya Dia-lah sumber cinta segala cinta kita.

Selamat mempelajari Tasawwuf!

Catatan:

1. Lihat:Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali, Al Munqiz Min 'dl-Dlalal, dalam majmu'at rasail Imam Al Ghazali,Darul Kutub al Ilmiyyah, Beirut, cet. I, 1409 H/1988 M, hal. 24-25.

2. Sca. hal. 62

3. Untuk contoh kontemporer proses seperti ini, dapat dibaca pada, Syekh Fauzi Muhammad Abu Zaid, Muhammad Ali Salamah Sirah wa Sarirah, Darul Iman wal Hayat, pengantar.

4. Lihat: Abdul Hayyie al Kattani, Ummat Islam Indonesia Sejarah Politik dan Peranannya 600-an --1945, MA Attaqwa, 1411 H/1991 M, hal 12-14

5. Lihat; Akbar S. Ahmad, From Samarkand to Stornoway: Living Islam, BBC Books Limited London, 1993, edisi Bahasa Indonesia, hal. 265-267.

6. Lihat: Syeikh Fauzi Muhammad Abu Zaid, Imam Al Azaim Al Mujaddid ash-Shufi, Darul Iman wal Hayat, Cairo, 1412 H/1992M, hal. 49-52.

7. Seorang peneliti Belanda, telah melakukan penelitian tentang tarikat Naqshabandi ke Asia tengah dan Indonesia. Salah bukunya tentang tasawwuf di Indonesia telah diterbitkan. Dan, setelah mempelajari Islam, terutama tasawwuf, ia dengan yakin mengucapkan syahadat.

8. Lihat: Al Madrasah Syaziliyyah, scn. 24, hal. 281 dst.

9. Lihat: Kautsar Azhari Noer, Ibn Al Arabi Wahdat al Wujud dalam Perdebatan, Paramadina, cet. I, 1995, hal. xiv